news24xx.com
Thursday, 21 Jun 2018

Kisah Tragis Arie Anggara, Bocah yang Tewas Mengenaskan di Tangan Ayah Kandungnya

news24xx


Kisah Tragis Arie Anggara, Bocah yang Tewas Mengenaskan di Tangan Ayah KandungnyaKisah Tragis Arie Anggara, Bocah yang Tewas Mengenaskan di Tangan Ayah Kandungnya

News24xx.com - Tak jauh dari pintu masuk utama di pemakaman umum TPU Jeruk Purut, hanya sekitar 100 meter jauhnya tepatnya di Blok AA II ada kisah tragis disana.

Kuburan batu hitam berukuran 2x1 meter itu kontras dengan makam-makam di sekitarnya. Tak terurus, ditumbuhi rumput liar, dan usang dimakan waktu.

Tulisan di nisan dari marmer putih nyaris terhapus sepenuhnya. Ada goresan ‘Maafkan Papa’ dan ‘Maafkan Mama’ yang berada di kanan dan kiri.


Seorang saksi mata, Agustini mengaku sedih melihat kuburan itu. Perempuan 48 tahun itu sama sekali tak ada hubungan dengan almarhum. Tapi, ia ada di sana saat Arie dikebumikan 30 tahun lalu, saat TPU Jeruk Purut belum seramai dan serapi sekarang.

Sebuah upacara penguburan yang mengharu biru, tangis banyak orang pecah ketika jasad kecil itu dimasukkan ke liang lahat.


“Aduh saya mau nangis aja kalau ingat kisahnya. Sampai sekarang sudah meninggal juga kuburannya tidak diurus. Kasihan, hidupnya dianiaya sama orang tuanya, meninggalnya dilupain,” ujar wanita yang juga bekerja pemelihara makam itu.


Sejak tahun 2000, jarang ada yang ziarah ke makam Arie Hanggara. Sopian, petugas TPU Jeruk Purut mengatakan, biaya administrasi -- yang harus dibayar 3 tahun sekali -- sudah menunggak 5 tahun.

“Kalau sudah nggak dibayar selama 3 periode atau 9 tahun (makam) itu bisa ditumpuk,” kata dia.

Dari catatan administrasi, tertera nama Nyonya Dahlia. Alamat rumahnya di daerah Pengadegan Timur, Kalibata, Jakarta Selatan. Namun, saat didatangi, perempuan itu tak ada di sana.

Warga sekitar berujar, rumah bernomor 10 itu dulunya memang rumah Machtino bin Eddiwan dan Santi – ayah kandung dan ibu tiri Arie.

Sejak 2004 rumah itu dijual dan sudah berpindah tangan.

“Kalau Machtino dan Santi saya tahu, Machtino meninggal tahun 2004 dan sejak itu rumahnya dijual,” kata warga bernama Rizki.


Ia tak mengenal siapa Dahlia. Namun setelah ditelusuri nama ibu kandung Arie adalah Dahlia Nasution.

Arie Hanggara tutup usia pada 8 November 1984, usianya belum genap 8 tahun saat itu. Bocah kecil itu tewas dianiaya ayah kandungnya sendiri.


Dengan dalih mendisiplinkan anak atau mungkin melampiaskan kekesalan karena frustasi jadi pengangguran, Machtino kerap menghajar Arie. Pipi kecil itu ia tampar berkali-kali sekuat tenaga, memukulinya dengan gagang sapu, mengikat kaki dan tangan si anak kedua, disuruh berdiri jongkok sampai ratusan kali.


“Hadap tembok!” teriakan ini sempat didengar tetangga pada malam itu. Dini harinya, bocah yang kepayahan itu tak lagi bisa bertahan. Ia ditemukan ambruk dengan tubuh kaku. Machtino dan Santi menyesal berat, tapi waktu tak bisa diputar ulang kembali.


Kematian Arie Hanggara bikin gempar kala itu. Orang-orang tak habis pikir, mengapa bisa orangtua menyiksa anaknya sendiri hingga mati.

Arie adalah simbol dari anak-anak yang tertindas. Namun kini, seiring waktu berlalu, tak cuma makam dan namanya yang terlupakan. Ia seakan hanya menjadi sebuah kisah masa lalu.

NEWS24XX.COM

Can be read in English and 100 other International languages





loading...
Versi Mobile
Loading...