Rencana Jepang Cegah Bencana dan Jatuhnya Korban Jiwa Akibat Gempa Bumi Besar Palung Nankai

Rencana Jepang Cegah Bencana dan Jatuhnya Korban Jiwa Akibat Gempa Bumi Besar Palung Nankai - Image Caption


News24xx.com -  Pemerintah Jepang berupaya mencegah jatuhnya korban jiwa dan mitigasi bencana gempa bumi Palung Nankai yang diprediksi akan memakan korban sekira 298 ribu jiwa.

Selain itu, akibat dari guncangan tersebut Negeri Sakura diprediksi akan menelan kerugian hingga 270 triliun yen atau setara dengan Rp29,8 triliun.

Berdasarkan laporan Kyodo News, saat ini satuan tugas bencana tengah melakukan revisi terkait strategi evakuasi serta pembangunan infrastruktur, agar korban jiwa bisa selamat sampai 80 persen.

Sementara ini, satuan tugas baru memberikan proyeksi jumlah pengungsi akan meningkat dibanding tahun 2012 yang mencapai 9,5 juta menjadi 12,3 juta, setara dengan 10 persen populasi Jepang.

Diprediksi kekuatan gempa bumi dashyat Palung Nankai mencapai 8 hingga 9 skala ritcher, guncangan dibarengi dengan adanya tsunami.

Rencana Jepang Atasi Bencana Palung Nankai

Pemerintah Jepang berencana untuk menetapkan area prioritas tambahan untuk pencegahan bencana, berdasarkan zona risiko banjir serta merencanakan ketahanan fiskal lima tahun kedepan untuk periode 2026 hingga 2030.

Rencana ini dilakukan untuk mempercapat pembangunan infrastruktur, guna meminimalisiri korban jiwa serta risiko kerugian yang diterima saat bencana terjadi.

Jepang berencana untuk menginvestasikan lebih dari 20 triliun yen dalam lima tahun dari fiskal tahun 2026 untuk meningkatkan ketahanan negara terhadap bencana alam seperti gempa besar Palung Nankai.

Pengeluaran yang direncanakan oleh pemerintah untuk mempercepat peningkatan infrastruktur yang menua dan bersiap menghadapi banjir serta gempa besar. Kebijakan ini rencananya akan disetujui pada bulan Juni 2025 mendatang.

Sementara itu, kritikus pemerintah mengatakan langkah tersebut tampak ditujukan untuk meningkatkan dukungan terhadap industri konstruksi menjelang pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat pada musim panas ini, serta Perdana Menteri Shigeru Ishiba berupaya untuk meningkatkan pijakan politiknya.

Selain itu, industri konstruksi telah menghadapi banyak kekurangan tenaga kerja secara terus-menerus dan beberapa proyek dapat memakan waktu lebih dari 50 tahun untuk diselesaikan.

"Kita harus terus memajukan langkah-langkah untuk mengurangi kerusakan," kata Ishiba dikutip dari Kyodo News.

Sebuah proyeksi tentang gempa bumi besar Palung Nankai yang diprediksi menelan korban hingga 298 jiwa ribu ini, membutuhkan persiapan pencegahan salah satunya perbaikan infrastruktur.

Seperti halnya pipa pembuangan bawah tanah yang sudah rusak, akhirnya menciptakan lubang pembuangan di Yashio Prefektur Saitama yang menelan sebuah truk dan pengemudinya awal tahun ini.

Kemudian setelah gempa bumi yang melanda Semenanjung Noto pada tahun 2024 mengakibatkan terputusnya air dalam jangka waktu lama.

Pemerintah Jepang pun berencana membuat 34 persen pipa air dan saluran pembuangan tahan gempa di tahun 2030.

Selanjutnya 92 ribu jembatan jalan yang dikelola pemerintah pusat dan daerah memerlukan perbaikan mendesak dan 80 persen akan diperbaiki pada tahun 2030. ***